Dua Air Itu Tidak Bisa Bercampur : Keajaiban yang Menakjubkan

Sebagai muslim, di seluruh dunia, baik di benua Amerika, Eropa, Asia, Afrika, dan Australia, tua maupun muda, laki-laki atau perempuan menjadi kewajiban untuk percaya bahwa al-Qur’an itu benar-benar wahyu dari Tuhan semesta alam. Karena definisi muslim sangat erat kaitannya dengan iman dan taqwa. Secara termenologi muslim adalah sikap penyerahan diri tunduk, taat dan patuh terhadap Tuhan yang Mahakuasa. Sehingga jika ia benar-benar muslim ia akan mengakui bahwa al-Qur’an merupakan perkataan-Nya (kalam-Nya) yang diwahyukan kepada Muhammad Rasulullah saww. melalui ruhul qudus (malaikat Jibril as) selama kurun waktu 22-23 tahun.

Pengakuan bahwa al-Qur`an adalah wahyu Tuhan meliputi apa yang tersurat (tertulis) dan yang tersirat (tersembunyi). Yang tersurat adalah seperti yang sering kita lihat atau baca setiap hari yang berbentuk mus`haf. Sedangkan yang tersirat adalah informasi al-Qur`an yang nampaknya sangat tersembunyi baik itu berupa teks/tertulis, qauliyah (firman-Nya) pun juga kauniyah (alam semesta di sekitar kita). Keduanya harus kita gali dan kaji untuk membuktikan bahwa al-Qur`an itu adalah kalam-Nya.

Namun, yang akan penulis kemukakan dalam tulisan ini adalah mengenai ayat kauniyah yang insya Allah akan memperdalam dan memperkuat keyakinan kita bahwa al-Qur’an al-Karim bukan muntaj tsaqafi (produk budaya) atau tulisan nabi belaka seperti yang dilontarkan dan dituduhkaan oleh sebagian `muslim` durjana.

Sungai dan Muara di Tunisia

Meskipun al-Qur’an tidak langsung menyebutkan secara definitif tentang ibadah, muamalah, syariat, hukum, atau yang lain, kita bisa mendapatkannya dari keterangan hadits nabi Muhammad saww, ijma shahabat dan qiyas-menurut pendapat imam mazdhab dalam ahlus sunnah wal jamaah dan burhan menurut syiah imamiyah-fuqaha. Begitu juga dengan keberadaan tempat yang disinggung oleh al-Qur’an, namun tidak secara tegas dijelaskan di mana tempat itu berada. Misalnya tentang pembangkangan kaum nabi Luth kepada Allah swt. yang menyebabkan mereka mendapatkan azab-Nya, berupa tertimbun re-runtuhan bangunan yang dijadikan sebagai tempat untuk bersenang-senang melakukan homosek-sodomi.

Setelah melalui penelitian yang panjang, Adnan Oktar – dikenal dengan nama pena – Harun Yahya, cendikiawaan muslim terkemuka berkebangsaan Turki, menemukan jawaban bahwa tempat itu terdapat di Italia yang bentuknya mirip seperti stadion sepak bola. Sampai sekarang tempat itu masih ada. Bahkan dijelaskan oleh beliau, Harun Yahya, hingga saat ini masih terlihat jelas sebagian dari mereka yang telah membatu, mati dalam keadaan berbuat durhaka kepada Allah swt. Mengenai peristiwa ini sebagian terdapat di dalam al-Qur’an surat al-A`raaf. Lalu bagaimana dengan tempat yang lain, misalnya muara dan sungai yang sifat airnya satu segar lagi tawar, sedangkan yang lain asin lagi pahit? Di manakah muara dan lautan itu berada?

Dalam dialog, Islam diwakili Dr. Zakir Naik vs Kristen oleh Dr. William Cambell, di Amerika yang diselenggarakan oleh Islamic Community North America (ICNA) pada tahun 2000, dihadiri lebih 1.000 peserta, Dr. W Cambell penganut Kristen yang kuat, bercerita pernah mengunjungi Negara Tunisia. Di sana, Cambell menyaksikan serta melihat sebuah sungai yang terdiri dari dua jenis (sifat) air. Yang satu tawar lagi segar, sedangkan yang lain asin lagi pahit. Dan anehnya, lanjut Cambell, antara keduanya meskipun berada dalam satu sungai dan muara kedua jenis/sifat air tersebut tidak bercampur antara satu dengan yang lain. Padahal yang membedakan hanyalah rasanya.

Ilmuan lain yang menyatakan ketakjuban terhadap fenomena ini adalah penyelam kelas dunia yang berkewarganegaraan Prancis yang bernama. Namun ia tidak mengatakan bahwa sungai di bawah laut itu ada di Tunisia. Melainkan di Meksiko. Tepatnya di Goa Angelita. Al-Qur’an menyinggung masalah tersebut jauh sebelum Cambell dan penyelam ternama tersebut melihatnya.

Di dalam surat al-Furqaan 25 ayat 53 Allah swt menjelaskan tentang hal ini, sebagaiman firman-Nya berikut,

* uqèdur “Ï%©!$# ylttB Ç`÷ƒtóst7ø9$# #x‹»yd Ò>õ‹tã ÔN#tèù #x‹»ydur ìxù=ÏB Ól%y`é& Ÿ@yèy_ur $yJåks]÷t/ %Y{y—öt/ #\ôfÏmur #Y‘qàføt¤C ÇÎÌÈ

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. (al-Furqaan 25: 53)

ylttB Ç`÷ƒtóst7ø9$# Èb$u‹É)tGù=tƒ ÇÊÒÈ   $yJåks]÷t/ ӈy—öt/ žw Èb$u‹Éóö7tƒ ÇËÉÈ

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. (ar-Rahmaan: 19-20)

Di antara ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa laa yabghiyan, maksudnya masing-masing dari air tersebut tidak menghendaki. Dengan demikian maksud ayat di atas ialah bahwa ada dua laut yang keduanya tercerai karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (tidak diperlukan) Maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), Maka bertemulah dua lautan itu. Seperti terusan Suez dan terusan Panama yang sampai saat ini keduanya tidak menyatu.

Sungguh luar biasa! Apa yang mustahil dan tidak masuk akal bagi kita, namun bagi Allah swt. tidak ada apa-apanya. Lalu apakah pembatas itu? Seperti apakah bentuknya? Apakah ia terbuat dari kaca? Sampai saat ini tidak ada yang dapat mengetahui barzakh (dinding) dan hijran (pembatas) itu.

Jika antara air, minyak tanah, minyak goreng dan bensin di masukkan kedalam satu botol atau gelas, selama-lamanya tidak akan pernah menyatu. Meskipun seribu tahun lamanya. Hal ini wajar kerena keempat unsur itu berbeda meskipun sama-sama cair. Air akan menempati bagian yang terbawah, karena H2O ini yang terberat. Minyak goreng akan menempati urutan yang kedua dari bawah. Minyak tanah pada urutan ketiga. Sedangkan bensin menempati urutan teratas.

Namun Jika kita memasukkan air, yang satu berwarna merah dan yang lain berwarna hijau kedalam satu wadah (gelas/cangkir/mangkok) misalnya, kita tidak harus bersusah payah menunggu satu jam atau bahkan seribu tahun, akan mendapatkan keduanya dengan sendirinya bercampur yang pada akhirnya akan menghasilkan warna kehitam-hitaman. Dari segi rasa, jika kita mencampur kuah atau lodeh misalnya dengan susu, tanpa kita perintah dengan sendirinya, kuah rasanya yang asin dan susu yang manis, keduanya akan menyatu dan rasanya tidak seperti semula lagi.

Mengapa semua ini bisa terjadi? Yang pertama tidak bercampur, sedangkan yang kedua menyatu? Jawabannya semua atas kehendak dan izin Allah swt. Yang Mahakuasa dan perkasa. Mahasuci Allah azza wa jalla yang telah membimbing kita untuk selalu bersyukur kepada-Nya.

Sungai di Bawah Laut; Bukti Al-Qur’an wahyu Tuhan

Selanjutnya, beberapa bulan terakhir salah satu stasiun televisi swasta  menyuguhi berita tentang adanya sungai yang berada di bawah laut. Di mana sungai tersebut seperti – seperti sungai-sungai  yang lain – airnya tawar. Namun, yang membuat ta`jub bagi salah satu artis papan atas yang telah berkunjung ke sana, dia mendapati keanehan. Pasalnya antara air sungai dan air laut tidak dapat menyatu/bercampur sebagaiman yang lain. Lagi-lagi ayat kauniyah ini menggugah sebagian ilmuan untuk meneliti, mengkaji dan menggali fenomena langka ini. Karena al-Qur’an tidak menjelaskan secara pasti di mana sungai itu berada.

Secara geografis, berdasarkan pengakuan artis tersebut, keberadaan sungai itu masuk negara Meksiko. Namun jauh sebelum artis, yang sering mengisi acara DAHSYAT di RCTI, al-Qur’an telah memberikan informasi tersebut 1.500 tahun yang lalu. Inilah salah satu ayat yang menyinggung masalah tersebut,

`¨Br& Ÿ@yèy_ uÚö‘F{$# #Y‘#ts% Ÿ@yèy_ur !$ygn=»n=Åz #\»yg÷Rr& Ÿ@yèy_ur $olm; €†Å›ºuru‘ Ÿ@yèy_ur šú÷üt/ Ç`÷ƒtóst7ø9$# #¹“Å_%tn 3 ×m»s9Ïär& yì¨B «!$# 4 ö@t/ öNèdçŽsYò2r& Ÿw šcqßJn=ôètƒ ÇÏÊÈ

Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. (an-Naml: 61)

Untuk kesekian kalinya ayat ini menjadi jawaban bahwa al-Qur’an bukanlah sebuah karangan. Jika ia memang karangan Nabi Muhammad saww. pernahkah beliau berkunjung ke Sungai di Goa Angelita Meksiko ataupun ke Tunisia? Padahal seperi telah diberitakan oleh para sejarahwan perjalanan Rasulullah saww. paling jauh hanya ke negeri Syam. Dan itu pun sebelum masa kerasulan atau perjalanan tersebut dalam rangka perdagangan.

Ayat di atas merupakan salah satu bukti  bahwa al-Qur’an adalah wahyu Tuhan semesta alam yang diturunkan kepada utusan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Lalu dengan adanya peristiwa ini masihkah kita ngotot mengatakan bahwa al-Qur’an sebagai produk budaya? Al-Qur’an tulisan Muhammad saw. belaka?

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mukmin Sejati Berdasarkan al-Qur`an yang Suci

”Wahai orang-orang yang beriman barang siapa yang keluar/murtad dari agamanya/Islam, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah swt. Mereka bersikap kasih sayang terhadap orang-orang mukmin, bersikap tegas atas orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah swt serta tidak takut atas celaan. Yang demikian itu adalah karunia Allah yang diberikan atas nereka yang dikehendaki-Nya. Dan Allah swt maha luas ilmu-Nya”. (al-Ahzaab: 54)

Terdapat beberapa ciri orang mukmin seperti yang tertera dalam ayat diatas. Pertama, kecintaan Allah swt kepada mereka. Lalu apakah kecintaan Allah swt itu? Dalam tafsir as-Sa`di dijelaskan bahwa kecintaan Allah azza wa jalla adalah kenikmatan dan keutamaan yang paling agung. Karena, jika Allah swt telah mencintai seorang hamba, maka pasti Dia akan memberikan kemudahan dalam segala urusannya serta akan menghindarkannya dari segala kesukaran. Allah swt. akan memberikan taufiq kepada hamba itu dengan menanamkan di hatinya kecintaan untuk melakukan perbuatan baik serta meninggalkan perbuatan munkar.

Hadis Rasulullah saw. juga menjelaskan bahwa Jika Allah mencintai seorang hamba, maka seluruh panca inderanya akan selalu bersih dari hal-hal yang tidak diridhai-Nya. Pendengaran, penglihatan, langkah, sifat, sikap, serta seluruh kegiatannya adalah manifestasi/cermin dari kecintaan Allah swt kepada hamba tersebut.

Ciri yang kedua adalah mereka pun mencintai-Nya. Seseorang yang mencintai Allah swt harus selalu mengikuti/ittibak perbuatan, kebiasaan, sikap, sifat dan karakter Nabi Muhammad saww. Sebagaimana firmannya  “Katakanlah wahai Muhammad! Jika kalain mencintai Allah swt, maka ikutilah aku/ber-ittibaklah kepadaku”. Kenapa harus ber-ittbak kepada Muhammad Rasulullah saww? Karena kalau kita mengikuti selain beliau berarti kita tidak mencintai Allah swt. Seberapa pun banyaknya harta yang kita belanjakan untuk kepentingan manusia, namun caranya tidak sesuai dengan ajaran Muhammad Rasulullah hal itu akan sia-sia. Memberikan bantuan untuk keberlangsungan perjudian, meskipun ada niat ikhlas itu juga akan hampa dan sia-sia. Begitu juga dengan perbuatan yang lain.

Disamping itu beliaulah yang patut, wajib, harus dijadikan teladan dan panutan sepanjang masa. Di dalam surat al-Ahzaab ayat 21 Allah swt berfirman terkati dengan sifat/karakter Rasulullah saw. yang artinya “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasul Allah uswah/ teladan yang baik.”. jika bukan rasulullah yang dijadikan panutan, siapa lagi? Apakah para pemain kulit bundar yang sering tampil `memukau` diatas lapangan hijau? Betapa banyak di antara kita yang menjadikan mereka sebagai idola, sampai kita lupa kepada utusan Allas swt yang paling mulia? Begitu di antara kita yang begitu nge-fans kepada pemain bola, sehingga ogah lagi mengenal agama mereka? Dari itu, kita patut ngaca dan bermuhasabah apakah kita termasuk orang yang meng-agungkannya atau bahkan termasuk orang yang menyepelekannya. Semuanya kembali kepada kita,

Ciri ketiga adalah berkasih sayang terhadap sesama orang mukmin. Hal ini menjadi keharusan bagi setiap orang Islam. Karena, bagaimana mungkin keharmonisan akan terbangun jika tidak ada saling pengertian? Rasulullah saw sampai memberikan gambaran bahwa keimanan seseorang perlu dipertanyakan, sampai ia mencintai saudaranya sebgaimana ia mencintai dirinya sendiri. Seperti sabdanya, “tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Lebih tegas lagi Allah swt, dalam kitab suci-Nya, al-Qur`an, berfirman “Sesungguhnya mukmin itu bersaudara.”

Hadis dan ayat di atas acap kali kita dengar, baca, lihat, namun perbuatan kita sering membuat orang lain keblingar dan sekarat. Betapa sering kita mencerca sedemikian keji terhadap saudara kita dengan kata-kata yang jijik, bahkan hal itu berlanjut tiada henti meskipun semenit bahkan sedetik. Sering pula kita menganggap yang berbeda pendapat dengan kita, langsung kita cap sebagai orang yang sesat.

Padahal dalam ayat dan hadits diatas kita deperintahkan untuk saling mengasihi. Jika ada saudara kita yang membutuhkan bantuan, seyoyanga cepat mengulurkan tangan. Apa bila sahabat kita kelaparan, sangat dianjurkan bahkan wajib bagi kita untuk memberikan bantuan. Jika ada teman kita yang sakit atau terkena musibah, alangkah senangnya dia jika kita menjenguknya dengan berdoa mudah-mudahan ia tabah. Alangkah indahnya hidup ini jika semuanya karena Allah swt. Semuga!

Ciri yang keempat adalah keharusan untuk selalu menang atas orang-orang kafir dalam segala lini kehidupan. Baik dalam segi keilmuan, akhlaq, kerapian bahkan kebersihan. Salah satu contoh kemenagan Islam atas orang-orang kafir dalam segi keilmuan adalah eksistensi ilmu para ulama klasik yang terankum dalam karya mereka. Kita bisa melihat tafsir al-Qur`an dan ulumul Qur`an, hadits, tafsir hadits dan ulumul hadits. Jika kita ingin mengetahui dalam agama Kristen misalnya, tidak akan ditemukan ilmu tentang tafsir injil, Ulumul injil dan lain-laian.[1]

Dalam segi akhlaq, kita diajari bagaimana cara makan dan minum sampai buang air besar. Semua ada akhlaq/etikanya. Masuk dan keluar WC ada doanya. Tatakrama kita kepad orang tua pun sangan ditekankan. Dalam firman Allah Yang Mahaagung, Mahatinggi kita diperintahkan untuk bertutur kata kepada kedua orang tua kita dengan sopan dan lemah-lembut. Bukan lemah-lembek! Firman Allah swt. surat al-Isra` ayat 23 yang artinya

Dan Tuhanmu, Allah swt, telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah/beribadah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Mengucapkan kata `ah` kepada orang tua tidak diperbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan keras dan  kasar daripada itu.

Adalah kyai haji Abd Hamid selaku pendiri dan sekaligus pengasuh pondok pesantren Darul Ulum Banyuanyar Paemekasan Madura, yang selama hidup beliau tidak pernah melangkahi sandal/terompah kedua orang tua beliau. Apalagi memakainya tanpa pamit, `sekedar` melangkahi saja, beliau sangat berhati-hati. Lalu bagaimana dengan kita? Betapa sering kita memakai sandal, terompah atau yang lain yang bukan milik kita. Masih untung kita mengembalikan. Bahkan ada yang meminjam pada akhirnya menjadi kepemilikan. Luar binasa!

Sungguh Islam sangat komplit, sempurna dan paripurna. Lalu akhlaq kita kepada tetangga, Islam juga memberikan penjelasan yang gamblang dan terang. Begitupun juga kepada tamu. Rasulullah bersabda dalam dua haditsnya “Barang siapa yang beriman kepada Allah swt, hendaklah ia memulyakan tamunya.” Dan “Barang siapa yang beriman kepada Allah swt, hendaklah ia memulyakan tetangganya.”

Lalu bagaimana akhlaq kita kepada guru-guru, ustadz dan kyai kita? Terlalu sering kita menyakiti perasaan beliau semua. Di depan beliau semua kita menangis, tapi di belakangnya kita malah cenga-ngas cengi-ngis. Kita dididik untuk menjadi orang beradab, karena kesombongan kita memilih menjadi orang biadab. Guru-guru, mengarahkan untuk menjadi orang yang adil, malah kita lebih suka menjadi orang yang zhalim. Ustadz-ustadz mengajarkan bagaimana menjadi orang berguna, kita lebih demen jadi orang durjana. Kyai-kyai menunjukkan kita untuk bergaul dengan orang yang sholeh, kita ngebet bergabung dengan orang-orang salah. Alangkah zhalim dan biadabnya kita!

Ciri Mukmin sejati yang kelima adalah jihad di jalam Allah swt. Definisi jihad menurut ulama sangat luas. Membuang duri dari jalan adalah jihad. Mengantarkan orang bertaubat dari kekufuran ke keimanan kepada Islam adalah jihad. Menyampaikan risalah al-Qur`an kepada non-Mulim juga termasuk jihad. Menginfaqkan harta kekayaan kita untuk kepentingan dakwah Islam, berupa pembangunan pondok pesantren, masjid, jalan raya untuk kemashlahatan umat juga termasuk jihad.

Dalam salah satu haditsnya Muhammad Rasulullah saww. bersabda “Berjihadlah/perangilah orang-orang kafir itu dengan harta kalian, diri kalian dan lisan kalian.” Banyak cara untuk berjihad di jalan Allah swt. Tergantung kemauan/keinginan dan tekad/semengat kita.

Ciri yang terakhir, keenam adalah tidak takut atas celaan, ejekan, cemoohan, makian, umpatan dan sebgainya. Sekali lagi kita harus mencontoh Rasulullah saww. yang selalu mendapatkan ejekan, umpatan, cemoohan, makian bentakan yang itu dilakukan oleh pamannya sendiri Abu Jahal dan Abu Lahab, juga sebagia kafir quraiys yang lain[2]. Namun balasan yang diberikan Rasulullah saww. kepada keduanya disamping kepada juga terhadap yang memusuhi beliau justru lebih mulia.

Sungguh harus diakui bahwa sebagian dari kita apabila mendapatkan sesuatu yang tidak sejalan dengan yang diinginkan, misalnya kita mendapatkan ejekan, maka balasan yang kita berikan akan lebih menyakitkan. ditambah lagi dengan sifat dendam yang kita lekatkan dalam badan. Mudah-mudahan Allah swt memberikan dan mengaruniakan kita sifat, sikap, karakter, adab, etika dan kebiasaan seperti Muhammad Rasulullah saww. Amin!

Allah swt menjelaskan bahwa keenam ciri-ciri di atas adalah karunia Allah swt yang diberikan kepada hambanya yang dikehendaki. Tentu semuanya dengan usaha yang keras dan kemauan yang kuat. Karena Allah swt tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka sendiri yang merubahnya.


[1] Sebenarnya penulis tidak pantas menulinya dengan Injil atau al-kitab, karena kedua kitab ini adalah firman Allah yang diturunkan/diwahyukan kepada Nabi Isa dan Rasulullah Muhamad saw. Bahkan penulis lebih suka menyebutnya dengan istilah Bible.

[2] Salah satu teman penulis yang telah menghadap Allah swt-semuga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahannya dan menempatkannya disisi-Nya surga-Nya-mengatakan bahwa Abu Jahal mempunyai Arti Bapak Kebohohan. Karena secara gramatikal bahasa Arab arti Jahala adalah bodoh. Sedangkan Abu Lahab mempunyai arti Bapak Yang Berlidah Api. Karena arti lahabu adalah lidah api. Wallahu A`lam

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment